Alasan Mengapa Tarif Interkoneksi Harus Turun

Hai Sobat Padi Reload, gimana nih kabarnya hari ini ? Alhamdulillah ya kalau sehat semuanya. Pada kesempatan kali ini kami akan membahas mengenai ”
Alasan Mengapa Tarif Interkoneksi Harus Turun
“. Cekidot informasinya ya Sob…

Jakarta – Tak segala pihak berseberangan dengan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara ketika memutuskan pola biaya interkoneksi secara simetris yg besarannya sama buat segala operator telekomunikasi.

Di ketika sejumlah mantan anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) periode lama mengkritik kebijakan ini, ternyata ada dua pula yg mendukung langkah yg ditempuh menteri yg akrab disapa Chief RA ini.

Salah satunya Bambang P Adiwiyoto, mantan anggota komite BRTI periode 2006-2009. Dalam email yg diterima detikINET, Rabu (10/8/2016), ia membeberkan alasannya mengapa tarif interkoneksi harus turun.

“Tarif interkoneksi harus turun karena tarif interkoneksi yg berlaku sekarang ini telah terlalu tinggi. tarif yg tinggi menyebabkan perpindahan surplus konsumer ke surplus produser,” demikian ia akan menjelaskan.

Seperti diketahui, Kementeria Kominfo sudah menyelesaikan perhitungan biaya interkoneksi tahun 2016 dimana menghasilkan penurunan secara rata-rata bagi 18 skenario panggilan dari layanan seluler dan telepon tetap sekitar 26%.

Sebelumnya, tarif interkoneksi buat panggilan lokal seluler sekitar Rp 250. Dengan adanya perhitungan baru ini, maka per 1 September 2016 menjadi Rp 204 per menit.

Berikut adalah penjelasan lengkap yg disampaikan Bambang:

Pada dasarnya penetapan suatu tarif bukan issue bisnis (tidak mempergunakan ilmu bisnis) tapi issue ilmu ekonomi, jadi penetapan tarif tak bisa dikaitkan dengan biaya produksi operator.

Pada dasarnya perhitungan biaya telekomunikasi bisa mempergunakan salah sesuatu metode, merupakan (1) Historical-Cost Approach, (2) Forward-Looking Approach, atau (3) Pendekatan Biaya Interkoneksi.

Sementara itu regulator di Indonesia sudah memutuskan Forward-looking Approach sebagai cara buat menghitung biaya. Pendekatan dengan cara ini mempergunakan model ekonomi-teknik yg memperhitungkan biaya elemen jaringan sehingga menghasilkan jasa dengan mempergunakan elemen tersebut.

Model ini menghitung biaya buat membangun kembali elemen jaringan spesifik dengan mempergunakan teknologi yg ada, mengasumsikan bahwa biaya operasi dan modal dimanfaatkan secara efisien.

Model pendekatan ini termasuk (1) Long Run Incremental Cost (LRIC), (2) Total Service Long Run Incremental Cost (TSLRIC), dan (3) Total Element Long Run Incremental Cost (TELRIC).

Dalam pada itu berdasarkan kesepakatan bersama dipilih Long Run Incremental Cost (LRIC). Adapun Long Run Incremental Cost (LRIC) adalah incremental cost yg timbul dalam jangka panjang dengan tambahan volume bagi produksi spesifik.

Biasanya LRIC dihitung dengan memperkirakan biaya yg memakai teknologi ketika ini dan standar kinerja terbaik yg ada. Pada ketika kajian biaya didasarkan pada biaya operator yg efisien fasilitasnya dan teknologi yg dipergunakan, biasanya mengacu pada metodologi tipe LRIC.

Selain itu LRIC juga memperhitungkan prediksi kenaikan permintaan di masa mendatang, sehingga tercipta keadaan penawaran dan permintaan (supply dan demand) yg memutuskan tarif.

Keberadaan joint atau common cost mengakibatkan jumlah LRIC semua jasa operator mulai lebih kecil dari pada biaya total operator. Dengan demikian operator tak bisa menutup segala biaya.

Regulator mampu memberikan mark up yg ditambahkan ke LRIC atau biaya tipe LRIC operator buat menolong operator menutup segala biaya.

Hal yg menjadi kelemahan metode ini adalah cara ini mampu mengakomodasikan ketidakefisienan operasi atau teknologi yg dimiliki operator incumbent dan melimpahkan ketidakefisienan operator incumbent tersebut kepada operator yg mendapat interkoneksi.

Hal ini menyebabkan tarif jasa yg diberikan kemungkinan bisa lebih rendah apabila operator mempergunakan teknologi atau praktik manajemen yg efisien.

Suatu common practices yg berlaku di sebagian besar negara di dunia, penetapan tarif telekomunikasi (tarif interkoneksi, tarif terminasi) memakai forward-looking approach.

Model ini menghitung biaya buat membangun kembali elemen jaringan spesisfik dengan mempergunakan teknologi yg ada, dengan asumsi bahwa biaya operasi dan modal dimanfaatkan secara efisien.

Telah disepakati bersama bahwa regulator telekomunikasi Indonesia mempergunakan pendekatan Long Run Incremental Cost (LRIC) sebagai cara bagi menghitung tarif.

Sampai dengan tahun 2015, Telkomsel ditetapkan sebagai acuan karena dianggap operator STBS paling efisien. Namun berdasarkan perhitungan terakhir, yg sudah disampaikan dan diketahui oleh regulator, ada operator STBS yang lain yg dinyatakan paling efisien, dimana memiliki tarif interkoneksi paling rendah, bahkan jauh lebih rendah daripada Telkomsel.

Namun demikian regulator tetap mempergunakan angka perhitungan Telkomsel sebagai acuan perhitungan tarif telekomunikasi.

Dalam pendekatan LRIC, salah sesuatu faktor penting adalah prediksi kenaikan permintaan (demand) trafik dan weighted average cost of capital (WACC). Dengan mempergunakan pendekatan LRIC permintaan trafik yg meningkat mengakibatkan tarif telekomunikasi berpotensi turun.

Dalam perhitungan dan disampaikan kepada regulator, tarif interkoneksi Telkomsel adalah sebesar Rp204; angka ini jauh lebih besar daripada angka yg dimiliki salah sesuatu operator STBS.

Hal ini menyebabkan tarif telekomunikasi menjadi mahal sekali. Apabila regulator mulai tetap mempergunakan angka perhitungan Telkomsel sebagai acuan yg mengakibatkan sangat tingginya tarif telekomunikasi, maka konsumer berhak menuntut regulator dan Telkomsel karena menzalimi dan menyakiti hati konsumer dan bertentangan dengan ayat (3) Pasal 33 UUD, yg berbunyi buat sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Untuk tak membuat kondisi semakin silang pendapat dan argumen, serta mencegah regulator dituduh ikut menzalimi dan menyakiti hati rakyat consumer, dan apabila regulator tetap mempergunakan metode LRIC seyogyanya regulator langsung melakukan perhitungan ulang tarif interkoneksi dengan mengacu keadaan operator yg paling efisien.

Hal ini dikerjakan dalam upaya operator memutuskan tarif telekomunikasi yg berdampak bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Sebagai upaya bagi mempromosikan dan mendorong persaingan usaha yg sehat di industri telekomunikasi seharusnya tarif interkoneksi yg ditetapkan regulator yaitu tarif batas atas bukan tarif batas bawah. Masing-masing operator mulai memutuskan tarif pungut berdasarkan keadaan setempat (specific location), tarif pungut tak mampu one fits size for all.

Dengan skenario ini operator yg memiliki tarif interkoneksi lebih rendah dibandingkan dengan operator yang lain mulai tetap bertahan, namun adalah salah sesuatu tugas regulator agar tak terjadi persaingan usaha saling mematikan yg menyebabkan ti ji ti beh.

(rou/rou)

Sumber: http://inet.detik.com

Gimana sob artikelnya tentang
Alasan Mengapa Tarif Interkoneksi Harus Turun
, Semoga bermanfaat untuk seluruh Sobat Padi Reload di seluruh Indonesia ya…. Have a Nice Day

Tags: Info Techno

Related Post "Alasan Mengapa Tarif Interkoneksi Harus Turun"

Mengapa Menara BTS Di Jakarta Jadi Mirip Pohon?
Hai Sobat Padi Reload, gimana nih kabarnya
Samsung Ganti Baru Semua Galaxy Note 7 Di Pasaran
Hai Sobat Padi Reload, gimana nih kabarnya
Samsung Resmi “Recall” Galaxy Note 7
Hai Sobat Padi Reload, gimana nih kabarnya
Resmi, Sony Rilis Duo Xperia X Dengan Kamera 23 Megapiksel
Hai Sobat Padi Reload, gimana nih kabarnya